Rabu, 26 September 2012

MEMOAR 1 (Kepada A)


By. Sri Sudarianti

Kemarin,
kita adalah buih dan ombak
berlarian
menyisir bibir pantai
berdekapan
menggapai lautan

Namun,
waktu telah menggerakkan kita
diantara bilik-bilik keriangan dan keletihan
lalu, angin mengetuk pintu dan jendela
menyusuplah ia
melewati celah-celah

Kemudian,
bulan jadi tungku
membakar tubuh-tubuh kita
kering
meranggas
lalu patah

Dan diam,
adalah seogok sunyi
yang bersemayan
dipucuk-pucuk mimpi

Mataram, 25 Sept'12

Lelaki

by ; Pangeran Ketapang

Di dadaku masih ada tanda itu, diukirkan Bapak
dengan rasa bangga yang jumawa, seekor kambing
dengan tanduk yang paling gagah serta hangat
dan harum do'a dari emak. "Ingat, anakku, ini
adalah lambang kelaki-lakian".
Dadaku bidang bagai padang pertempuran.
Membusung seperti burung.
Kusembunyikan pedih ke dalam malam,
sebab sejenak angin datang dari arah tak terduga,
sebelum tubuhku menjelma perjalanan bagi gejolak hati.

Dari hari ke hari, Bapak sempatkan mengajak aku
melihat pertempuran demi pertempuran. Kadang
aku temukan betapa pertempuran menjanjikan
tawa yang manis. Tapi, rupanya tawa manis tak
pernah cukup untuk membuat simpul senyum
yang biasa Bapak sunggingkan di bibirnya.
Dengan tujuhpuluh tujuh mantra yang sekarat,
Bapak mulai melepaskan kereta-kereta kuda ke padang kurusetra,
sajian kepada leluhur yang
mengajarkan cara bersyukur tanpa ukur.
Sajiankepada denting kilau anak panah yang menyusun
kesepian di lipatan matanya. Serta kepada do'a
yang tak lelah mengucap sabar tanpa batas.
juga kepada segala musim yang menciptakan
uban-uban di tebal rambutnya.


Punggungnya sedikit membungkuk menanggung
lelah hari tuanya. Bapak menatapku dengan rapuh.
"Kelak, aku menghilang dari pandangan. Jangan risau
atau bersedih, aku tak pergi hanya ada di langit mempersiapkan
segalanya bagi kalian. jangan lupa untuk berkhabar."
Kulihat senyum emak di matanya. Bapak bersegera
menenteng sajadah pergi ke mushola. Langkahnya
terlihat limbung menyambut senja. Orang-orang
membicarakan suara derap kakinya yang tak lagi
sanggup mengusir burung-burung dari balik rimbun
daun.

"Aku pergi merantau sebentar, pak. Menawarkan
dada sebidang kepada gemuruh pertempuran. Jika
kelak aku kembali, akan kubawakan kau sepasang
ikan cupang adu. Kita kawinkan di dalam kolam belakang
rumah.Agar nanti kemilau warna kelaki-lakian yang jumawa
dapat membiakkan gema dan riuh rendah kisah cinta masa mudamu."


Aku bawakan juga tongkat dan suster cantik untuk mengatasi
masalah kaki dan rabun senja yang acapkali membuatmu menggerutu.



16.09.2012

Rumah Pantai

by ; Susilaning Setyawati

"kau tancapkan jangkar kembaramu di pantaiku, "

diantara dua sisi dermaga besar pelabuhan,kau telah memilihku pantai landai yang sepi, tak banyak kapal besar dan pesiar, sebab katamu kau juga hanyalah perahu layar"

kau pun telah memukau ku sehingga seribu kali aku katakan wow, rayuanmu berbisik dan berhembus seperti rayuan pulau kelapa yang menjaga pantai ini
dan kau layari rahimku dengan darah dan keringatmu,maka pantaiku di tengah kampung riuh oleh anak-anak nelayan yang mengurai jala-jala putus itu menyambung kan kembali , kau jala juga aku dan anak-anak itu ke dalam perahumu

aku pun hanya mengikut ketika kau titipkan cangkul dan bajak itu sebab kau muhrim , satu-satunya muhrim yang kuijinkan memasuki kamar tamu di rumah pantaiku sejak aku terdampar di pulau garam tanpa asam ini.

aku sesekali melihat ramainya pelabuhan dan dua dermaga besar yang mengapit pantaiku, angin sesekali kusimpan agar rindu hanya sekitar pantai pasirku

SS , 2012

Syair Puisi Yang Tak Terselesaikan

by ; Agus Chaeruddin

Kertas ini masih kosong putih bersih tidak bernoda
kertas ini masih menunggu siempunya lapak
siap di nodai dan
di cumbui aksara
si tuan pujangga

Tapi sang tuan tak punya birahi
nafsunya cuma sampai tenggorokan
belum lagi tuan mencapai kepuasan
kata bersyair lepas dari rengkuhan

Dan kertas ini masih kosong
belum tergores tinta
imaji tuan jadi arena balapan
tuan terjatuh
lalu patah arang

Kertas kosong terbang ketepian
menanti sang tuan kembalikan ingatan
tapi sayang kertas kosong koyak di tengah hujan
menjadikannya tak perawan
syair puisi pun tak terselesaikan . . . .

(AC210912) 21:41WIB
KUTABARU-TANGERANG
BANTEN

kisah 1

by ; Sri Runia Komalayani

tulislah, katamu sambil
merangkai kenangan
hangat mentari dan sunyi dini

aku sibuk memilih kata
hingga kau murka
pada kata yang tak bermakna

aku sibuk mengemas makna
hingga kau terluka
pada kata yang tak mau terbaca

aku selalu sibuk menanda kata
hingga hanya ada noktah
yang terdampar dalam -dalam
di jeruji jiwa

sukabumi, 21 september 2012

Huruf Gagu

by ; Laila Situs

Lambung tumbuk bertalu-talu
Berkepul
Berasapkan perasan jantung

Lagu sayu yang menjamuku pun
Niru menggebu
Kembali,berpelatuk madu nan kering berbibirkan kulitan ratu
Yang menarik dengan kabar bayang
Bersenja dengan singgah dalam kursi-kursi sekam
Merindu,tunduk,terpaku,meleleh keringan rayu
Berucap
Sepotong huruf
Tumpah berteteskan keringan rayu

22.9.12

Pada Sejangka Waktu

by ; Wanto Tirta

pada sejangka waktu
rebah cinta lumur luka
gelora hati memanjat langit
menyepuh bumi

lengking suara memanggil
sapa siapa yang berapa-apa
segera henti kan mengapa

suluh tata mengetuk kata
berbaris sujud
tak kuasa tegak memandang tentang

segaris cinta
menabur keindahan makna bertapa
yang gelisah bergelinjang tak kan mampu bergoyang

pada sejangka senyap
berjuta rahmat menyiram keramat
di tepi-tepi dinding hati

21092012

Tembang Megatruh

by ; Syair Kelana

Lirih..
Membenturi dinding malam
Bergetar bibir pucat.
Wanita tua mengeja satu demi satu bait kerinduan.
Air matanya lepas..
Menjamah wajah renta keriput.
Menanti sang dara datang kepangkuan.
"Pulanglah nduk cah ayu"

Tembang Megatruh masih lembut mengalun menembus kegelapan
Menelusuri bukit bukit gersang di hamparan padang pasir Arafah.
Menyampaikan pesan terakhir sebelum ruh kematian menjemput.
Lalu diam..
Sepi memeluk malam

Puruk cahu 21092012

TARIAN KABUT

by ; Aby Santika

Ihwal perjamuan hanyalah sekat kepercayaan embun pada timba usia
aku berharap matamu mendekap sekujur kabut yang menggurat menemukan riak
seperti kelepak camar tak henti saling mengerling mengatupkan pagi yang terjaga

Lalu pada cawan yang kesekian, kita memanjat berahi yang mengutip satu awalan
- beterbangan ritmis sendawa angin ketika gemulai tarian sorongkan mimpi
dingin kembali tumpah saling berganti, dari dedaun yang mulai mengering
meski sebuah kisah berkelit tak kunjung kekal

Tarian dipinggulmu terus bergerak melampaui pukau kabut di gantungan musim
di tumpuk penantian serupa menghidupi masa lalu dalam pelukan embun
:tandus
seiring takdir berdegup riuh menentang gamelan tak bertuah

Ikutlah lebur melepas tawa yang terpahat sebelum maghrib
agar kian mengerti tentang kesakitan dan khianat matahari mengenang pagi
serta setiap dahagamu melingkarkan karma semua indera yang mulai lelah
kemudian kita terus melangkah dan bernyanyi bersama

Berabad, aku masih mengenalmu menyebutku kekasih
karena kabut yang terjelma, tidak menjadi raksa
erotis yang kita ikrarkan menyembul menzinahi semesta
lalu gairah mengguyur memberi kehidupan pada setiap pagi
: tarian kabut, ingatkah?

Bandung,
21 September 2012.

DUNIA SEDANG BINGUNG, DIAMLAH

by ; Buana KS

Dunia bingung
Mana anjing
Mana kucing

Dunia bingung
Mana maling
Mana hakim agung

Mana musang
Mana ayam

Mana brangbrang
Mana seluang

Mana srigala
Mana domba

Bingung ya bingung
Tuding menuding
Cakar mencakar cari jantung

Diam !

Diam !

Jangang bising

Sst !
Diamlah !

Dunia sedang bingung

Muara Bungo, 21 September 2012

Selasa, 18 September 2012

Ketika Hujan Menjadi Mimpimu

by ; Duta-D

sore ini, percakapanmu pada gersang
tak kunjung sampai pada titik temu
sementara ladang dan sawahsawah kita
meregang dipeluk kematian

benihbenih layu sebelum tumbuh
punai gelisah di puncak rantingranting rapuh
berpetakpetak tanah membisu
; “aku tak bisa menjanjikan hujan yang kau rindu”
katamu sembari merebahkan tidur panjang
pada pondok kayu di tengah pematang

lalu malam melayarkan mimpimimpimu
tentang hujan
tentang gemericik air di selokan
tentang tanahtanah basah
dan bocahbocah menari di tengah rinainya

Merasi, Lubuklinggau September 2012

KETIKA KEMATIAN MENJADI MIMPIKU

by ; Rabeah Mohd Ali

Ketika kematian menjadi mimpiku
Serasa alam barzahku kelam
Meraung aku semahunya
Mahu dihidupkan semula

Benarlah kata Tuhan
Aku cuma beri peluang di kala kamu hidup
Sekarang kamu sudah mati
Dulu masa hidup kamu sombong
Kamu bongkak dengan dirimu sendiri
Ada hamba -Ku datang meminta maaf padamu
Kau tak mahu maafkan
Sedangkan aku
Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang
Ampunkan hamba-Ku biarpun
Dosanya sepenuh bumi
Sepenuh langit
Siapa kamu?
Tahukah kau duhai hamba-Ku
Pakaian sombong itu hanya
Layak untuk-Ku
Bukan engkau!

SUBHANALLAH ALHAMDULILLAH ALLAHU AKBAR

Aku terjaga dari mimpi
Mimpi rupanya aku
Mimpi tentang kematianku
Aku mati dalam kesombongan
Nauzubillah!

KARYA RATU RIMBA NIAGARA
18 Sept 2012

Perempuan Pemuja Malam

by ; Syair Kelana

Dan ketika sinar bulan mulai berguguran di liang malam..
Desir angin mulai letih menahan kantuk
Titik2 aksaramu mulai menepis kegelisahan
Menari dihamparan sepi
Berirama luka..
Sperti tangisan bidadari melintas padang savana
Menggetarkan rumput ilalang menuju peraduan
Bukan nyanyian rindu..
Atau tembang Asmaradhana..
Hanya memahat cerita
Mengurai luka masa
Mencoba memutar roda waktu
Mencari pelabuhan yg hilang
Perempuan pemuja malam..
Berjalan dititian yg kian renta
Berpegang pada kegamangan yg kian mendera
Hitam putih silih brganti
Mewarnai malam yg makin ringkih
Jiwa merepih angan memudar
Padang savana makin membisu dalam diam
Selimut masa masih belum jua mampu kau tanggalkan
Menghiasi malam makin sunyi
Dan sendiri..

Lorong senja 17092012

MASIH ADA HARI INDAH BUAT MU

by ; Prahara Bulan Gerhana

harus berapa lamakah
hanya diam menunggu
di balik bayang bayang
tenggelam dalam kegelapan

jemputlah pagi dengan segenap asa
basuhlah wajah, dengan butiran embun
sejukkan jiwa damaikan hati
mekarkan bunga-bunga kasih

bernyanyilah bersama burung-burung
menarilah bersama kupu-kupu
senyum mengembang, tawa riang
padang ilalang jadi taman kasmaran

yakinkanlah...
bahwa esok masih ada hari indah buat mu ...

MASA


By, Sri Sudarianti

Waktu telah membawaku
dengan sayap-sayapnya
melewati lembah dan pegunungan
melewati sungai dan lautan
menemuimu kekasih jiwaku

Ketika hujan menyentuh jendela
mereka bercerita tentang kehidupan
dan angin membisikan
lagu-lagu kerinduan
pada bunga-bunga dan pepohonan

lalu,
kuncup bunga di taman hatiku
bernyanyi riuh
menari-nari
oleh lembut sentuhan sukmamu

Namun sebentar saja
rembulan meninabobokan kita
sesaat sebelum fajar menyadarkan rasa
dan mentaripun berkata
masa bukan punya kita

Mataram, 16 Sept'12

Air Gumpal

by ; Laila Situs
Serak,suaraku bergumam
Dera,beretaskan kaci berselang
Gemuruh,berkecam

Hawa yang lamban pun,mengalir berporikan jarum-jarum pintal
Kering,tajam

Amukan angin yang simpang pun beradu gelombang
Menjamu sayat,yang haus bertopikan jerami pekat
Simpuh,laluku berepublik durjana malang,

Air gumpal,
Meledak bertatakan lilin padam
Berhamburan
Mengaruk muka,berkejang
Berbingkis
Berseruling
Sirat,berdaunkan piranti kerang.

16/09/12

PEREMPUAN-PEREMPUAN PEMECAH BATU

bu ; Duta-D

renangi sungai Kelingi
lalu peluklah riaknya
hingga senja serupa kilau permata
di wajahnya yang renta
sebab di sana, berbongkah-bongkah batu
telah menjelmakan diri bagai mutiara
untukmu Perempuan-perempuan
bertulang baja..

Kelingi, Lubuk Linggau September 2012

HUJAN MASA DEPAN

by ; Smith Rain

Dan diammu masih misteri
ingatanku meresap ke ruang masa
tempat dahulu kau merenungi takdir
telah kukatakan aku akan datang
telah kupastikan aku tak hilang
Maka,
jangan senja dianggap durja
indahnya masih milikmu

Sepintas langit berduka
ataukah hanya aku
memandangnya begitu?
Sebaris riak tersisa
mendung di teduh mata
lagi-lagi kata yang sama menepukku
ya, rindu!
Lahir dari gelisahku tentangmu
ketika angin angkuh bawakan pesanku

Kita menimbun harapan
memupukinya dengan kata-kata yang gigil
sendu dalam syahdu
terbang dan merayu Tuhan
dan kini kita menunggu
saat-saat Dia menautkan ribuan
doa
dalam terang yang nyata

Akan ada lagi
siraman hujan masa depan
napasmu berhembus bahagia
badai kehidupan bukanlah deritamu sendiri
dan tetap kugaungkan
aku takkan hilang
aku di sini
aku tak pernah pergi

Kini dan nanti,
aku adalah segalamu
tumpahkan setiap asa
yang tak mampu kau rengkuh
kau pun segalaku
yang kucahayakan dengan kasih sayang

Pikiranku mengalun sama denganmu
beradu di setiap sujud
tentang masa depan
; ketika bahtera itu
menjadi surga tawa kita
ketika suara buah hati
memejamkan sepi
semoga kau dan aku, satu!

(Menjemput senja, 31 Agustus 2012. Masih untukmu)

Angin Tumbang Lahung

by ; Syair Kelana

Datangmu bersama senja..
Semilir sepanjang aliran Barito
Mendayu melintasi bukit2 hijau
Gadis2 ceria mandi di sungai
Bercanda di lanting berayun ombak.
Anak2 telanjang berenang berlombaan
Ach.. Aku ingin sperti mereka
Menikmati senja dg apa adanya
Mereka tak pernah mengharap pelangi
Mereka tak pernah perduli warna senja
Merah kah.. Kuning kah.. Atau kelabu
Mereka hanya bersahaja menikmati hidup
Dg alam yg masih brsahabat
Ahh.. Indahnya.!!

Tumbang lahung
Kec. Permata Intan
14092012

Jumat, 14 September 2012

Rindu Nan Tertolak


by ; R. Hadi Isdi Hartana

Rindu membiru
terhempas waktu
pedih, pilu menyatu
sa'at terusir dari rumah-Mu.

Lama sudah
tunggukan masa
berharap bisa bersua
kenapa kunjungan belum diterima.

Kurangkah bekal nan terbawa
atau rayuan belum mengena
hingga pinangan tak diterima
padahal rindu menyesak dada.

Rasa syarat
telah lengkap
bila kurang tolong
cukupkan.



Kalbar,14/09/2012

DIRAJAM RINDUMU

by ; Iskandar Idris

Ku lalui sujud-sujud malamku
Menghujam kening di atas sajadah batu
Menyatu di setiap desah nafsu
Merasuk syahdu di relung Qolbu

Ayat-ayat cinta-Mu mengeja makna
Ku lantunkan dari kedalaman jiwa
Meski tak bernada

Aku mencintai-Mu dengan rasa
Tak kan pupus meski dirajam bara neraka
Aku mencintai-Mu dengan hati
Tak kan musnah walau tersakiti

Cinta-Mu begitu menyiksa
Meski telah ku curahkan segala rasa
Rindu-rindu berseteru di ujung muara
Pemenang bersenang-senang berlayar menuju laut
Pecundang meratap pasrah kembali menyerah

Ayat-ayat ancaman-Mu merapuh sukma
Ku dendangkan tanpa henti
Meski tak jua mengerti

Aku membenci-Mu dengan dendam membara
Tak kan pupus meski disuguhi kenikmatan Syurga
Aku membenci-Mu dengan amarah
Takkan musnah walau mengalir darah dan nanah

Benci-Mu begitu mempesona
Meski telah ku musnahkan segala siksa
Dirajam rindu-Mu, oh selalu ku damba
Merasuk di relung-relung hati sang pemuja

Beranda Hati. Wisma Bahagia. l 2012/

Ilalang

by ; Laila Situs

Berderas,sekeping harap
Yang membumbung dalam segi-segi tapak

Tampak:
Kapas,teras.
Menjaga bersapunya bunga-bunga ilalang
Hingga,Tanpa kepak sapa
Hinggap,dengan sekelumit tanda
Meneduh bersama
Berbingkai kertas penganut sampan kerak.

13/09/12

Wanita Jingga

by ; Syair Kelana

Disudut senyum menampilkan kegundahan
Tersembunyi di gelak merekah
Tersirat rangkaian aksara bermakna luka
Berlayar di badai roda waktu
Berlarian kesana kemari
Mencari tempat berpijak kaki
Tawa melanglang
Menangkup sepi mu
Engkau yg sesungguhnya mengakrabi sepi
Wanita jingga..
Menggenggam kepingan dua mata
Meyakini dua sisi berbeda
Menyembunyikan air mata di balik gelak tawa
Menggoreskan wajah ceria di hati gulana.
Dan itu kau..!!

Dr sekeping uang logam
Murung raya 13092012

KAU, AKU


By, Sri Sudarianti

Dan kita,
hampir dijemput kematian
pada lorong tanpa warna
kita layari cakrawala yang kosong
hening
lebur dalam ketiadaan

Begitulah kita
sedari mula-mula
t'lah kita peluk keinginan yang berbeda
mabuk dalam keegoan semata

Akh,
telah kita sesap susu bertuba
dalam bah'gia semu semata
lalu terkungkunglah jiwa
dalam jeruji tanpa penjara

Dan kita
berdiang dalam negeri asing
tanpa kata
tanpa suara
menunggu ajal
yang entah kapan datangnya

Mataram, 12 Sept ' 12

SKETSA JASAD

by ; Sri Sudarianti

Sebentar lagi
kereta terakhir akan tiba
membawa kita
pada tujuan yang berbeda

telah kita tangisi wajah matahari
telah kita ratapi wajah rembulan
hingga topan menyapu birahi
dan jiwa-jiwa kita
menyendiri diujung sunyi

jalan telah jauh kita tapaki
jejak kita membekas dengan jelasnya
kekecewaan dan kemarahan
telah membakar kekaguman

Duh,
telah kita bangun istana dalam kuburan
dimana airmata dan darah mengalir diantaranya
dan kita adalah jasad
dimana maut dan kehidupan
berpagut
saling berpelukan

Mataram. 13 Sept'12.. *SS *

Ingin Mengajakmu

by ; Karim Aminullah

menggigil kelamku saat angin menodai tepian kisah itu
hamparan yang menjadi ruang perjumpaan tak lagi menyuguhkan senyum
anehnya, selalu aku menginginkan dirimu ada
sedangkan peristiwa dulu, kubiarkan dihembuskan angin

aku sedang berbenah-benah di dalam jiwaku, seandainya dirimu benar datang
menghadirkan suasana baru, kisah-kisah baru
sesekali mengajakmu berjalan di halaman
merapikan rumput dan bunga - bunga

tetapi kini, hanya tanganku yang bergerak melambai
kisah-kisah dan peristiwa berlalu begitu saja
cakrawala tegar menggenggam tanganmu
kau terdiam, hanya sesekali melempar senyum

Mataram, 13 September 2012

Tersesat

by ; Vara Wicaksono

Sebuah rasa yang kubiarkan
mengalir lembut dalam darahku
kukira akan menjadi sahabat
dalam menyisir waktu
ternyata.... aku salah.
rasa itu, kini membudakkan aku
merajai jiwaku
membawaku berkelana ke dalam belantara
dan meninggalkanku di sana
membiarkanku tersesat dalam kehampaan
membiarkanku tercabik oleh kesunyian

sebuah rasa yang kubiarkan lembut menyapa hatiku
kini membelengguku

Sajak 2040

by ; Susilaning Setyawati

satu siang garang
daun patah ,angin pun menyerah
setelah lelah mengejar sisa-sisa angka di tanah
batu-batu di taman mengalikan usia
di bawah rerimbun mangga

di semak umur seekor kupu
baru metamorfose
segelintir ular meninggalkan kulitnya di sela batu

sementara matahari meleleh di aspal goreng
berkerut dan bopeng-bopeng

sragen 2012

Surat terakhir (untuk perempuan gurun)

by ; Syair Kelana

Salam..
Cukup sdh kuberikan keyakinan itu.
Tentang hidup dan kehidupan.
Maka berjalanlah kau dg menatap matahari di dpn mu.
Sirnakan keraguan sperti yg selama ini kuajarkan.
Aku kan slalu mendoakan kebaikan untukmu.
Lepaskan semua tali temali yg pernah mengikat dan membelit keberadaan kita.
Bebaskan ke egoan yg pernah ada untuk terus saling bersama
Luarkan jiwa kita.
Agar tak selalu merasa saling mengasihani saat perpisahan tlah kita ikrar kan
Apalagi smpai meneteskan air mata
Bukan kah kita prnah trjebak pada kata2 "seandainya"
Lalu ktika saling kita sadari siapa diri kita masing2..
Kata "seandainya" itu jadi sperti khayalan
Sperti memutar roda waktu kembali kebelakang
Menghapus catatan sejarah
Tak mungkin..!!
Tak ada pesta yg tak kan prnah usai
Sperti musyafir di gurun pasir
Kita prnah singgah di oase yg sama
Lalu saling berbagi cerita melepas lelah
Dan melanjutkan prjalanan kita ke tujuan masing2
Wasalam

Surat dari borneo
Puruk cahu 11092012

Kamu

by ; Prahara Bulan Gerhana

merah gaun mu
merahkan bara cintaku

rekah senyum mu
deraskan lari darah ku

bening bola mata mu
tenangkan gundah ku

pesona wajah mu
melambungkan angan ku

indah lekuk tubuh mu
tak tertahankan gairah ku

Tentang Mimpi

by ; Fitria Nengsih

terjaga dari tidurku
ku hela nafas ini
ingin kulepas semua mimpi
yang selalu ingin kualami

tapi aku sadar
semua bukan milikku
akankah kulepas semuanya??
walau tantang selalu menjelma

tapi kuyakin
mimpi itu akan selalu menggelayuti anganku
yang suatu saat akan kuraih
akan ku nanti saat itu

*Salam buatmu*

Symphoni

by ; Laila Situs

Meraut dalam kaburan malang
Menawan
Berdaun dera bui nisan

Sebuah pera selempang,
Putih,berdasarkan tiang pandang
Meraung dengan sua diam

Tarikan titik-titik pun mencerutu saja
Tenang,
Diam,berbalutkan kasa pintal

Tuding pun berasap simponi dalang
Menghadap malam,di peraduan nazar

kerontang,dan simpang.

11/9/12

Asmara Alam


kabeh dayaning bumi
kabeh kuasane langit
kabeh kuat sing nang mayapada sun undang

banyu kanggo nelesi sing garing.
Angin kanggo sumilirna ati sing panas.
Padang kanggo sing ana petengan.
Ora kluruk ora sumuk tansah lumampah segara katresnan,sing jiwa mayapada gugur gunung saka eseman.
Ora njaluk tansah lila pawehan kaya dene alam sing ora tau njaluk pawalesan.

Gera Kertas

by ; Laila Situs

Menatap dengan siulan cahaya
Melari dalam intipan fajar
Yang melukisi paras-paras kertas yang lahir dalam-dalam
Sejenak,dan seterusnya...

Tumpukannya pun lari bersama derasan
Berselambu malaikat
Serap lekat berputarkan larung gelombang

Ingatnnya pun rapuh,
Ketika pudar melukisi putihan serabut,
Menjamu dalam renta yang berkaram
Lantun singgah berbati sendu muram.

11/9/12

Rongga Masif

by ; Laila Situs

Beradu jejal dalam luang terik
Kelambu layang,beterbangan dalam remasan rintik
Pacik,tanpa alir berisik
bersemi:
Lari!
Larilah!
Anak perahu serik,
Lanjut tuamu dalam kerongkongan pasir,
Berbatu bui,
Berteras ranting,kemilau berjaring taring...

Larilah tetua serik,
Pandirmu tumpul dalam puing,
Beradu muluk,dalam pelemparan puingan sisik...

Sudah,tulahmu lanjut
Tua,dan akan pasti berhulu suri...

(keringnya simpati/empati,10/09/12

Dalam sajakku ada namamu

by ; Getar Senar Cinta

wahai kekasih
namamu masih kusimpan di dalam
sajak


ku buat setelah bintang jatuh
di mega angkasa

menjaring kerinduan dipelupuk busana malam
jiwamu telah merengkuh jiwaku
Membelai mesra sukma tanpa mengenal kasta

kini malampun merenggut purnama pasi
dalam, gubuk aksaraku

Putri
taburkan aroma puspamu
di taman langit cinta
meresap kedalam
mimpi...

Salam sahabat sejatiku penghibur dunia

Cahaya Jiwa

by ; Ahmad Salim Ivanovic

Cahaya putih indah terang
menerangi alam jiwaku.
Cahaya warna-warni sewujud pelangi
mewarnai hari-hariku dengan ceria hati.
Sungguh, permainan cahaya yang indah,
menyilaukan,
mengasyikkan.
Kunikmati cahayanya
dan kurengkuh kilaunya
yang ku resapkan dihatiku
Cahaya itu adalah keindahan
Cahaya itu terangi hatiku
dan mengurai gelap gulita jiwaku.
Cahaya itu memancarkan kedamaian
sehingga galauku musnah dan rasaku indah.
Cahaya telah menerangi jalanku
atas ijin-Nya.
Cahaya itu menerangi perjalanan jiwaku.
Aku menuju jalan-Nya Yang Memiliki Seluruh Cahaya.

Kamis, 13 September 2012

Bingkai Rindu

by ; Sofia Alfajar

meretes mimpi di pagi ceria
sejuk embun menggantung
di pucuk daun.

mentari masih sembuyi
burung bernyanyi
melenggak diatas ranting

rekah kelopak mawar
harumkan bilik jiwa
berbingkai rindu
berhias ketulusan.

Oase Pasi

by ; Laila Situs

Mengalir,
Terkapai-kapai
Berderaskan pandangan arca sunyi
Sinis,bersapukan mistik

Terang yang melari pun terpatahkan tabiran pasi
Menjadi tak bertahta,liar tanpa jalan bertali

Peraduan oasepun kering,
Mengalah dalam tuduhan sesaji

Para pandega pun sesak bertepi
Melihat layang tumbang dalam ketenangan batik berkaki.

09/09/12

Juni Kita

by ; Angel Bintang Parahyangan

Musim berganti
Waktu jadi memory
Masa menjadi kenang


Juni kita..
Kau ungkap perasaan
Aku penghuni di hatimu

Juni kita..
Janji di lafaz
Setia di ikrar
Bertemu setelah penantian.

Juni kita..
Sepenuh rasa
Berhias mega di penghujung malam.
Purnama iri sembunyi diri,di sebalik awan.

Juni kita..
Tautan dua rasa
Melabuh rindu dan cinta

Juni kita..
Adalah cinta kita,sayang

Juni kita..
Antara Abha-Palembang

Al-Majardah 09-09-2012
Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat silaturahmi antar pujangga dan jangan lupa kembali lagi yah