Tampilkan postingan dengan label Laila Situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laila Situs. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Desember 2012
Minggu, 23 Desember 2012
Rombak, Mencari Pandega
by ; Laila Situs
Menyebut ia manusia
Melangkah di gunduk-gunduk serakan dahan
Hembus, menyejuk guyuran
Mengajak diam
Beradu ronta tatapan
Dengan panah langit-langit rana
Anda menyebut manusia,
2 tangan yang berjalan
Selang, berlayang
Menanduku dalam perahu gujarat pandega simpang
Meraungkan pijak
Dengan amuk angin lembayung tinta pion harapan
Anda mengaku juga manusia,
Menyapu aliran desir pandangan
Mengarakku
Masuk menali desir darah hembusan
Di sungai pasangan
Yang merusuk dan menjatuhi pandega
Pencakar jurang hati bertuan
181212
Sabtu, 15 Desember 2012
Arus
by ; Laila Situs
Desir berselaput biru
Menyapaku tepat di bawah setengah bulanan sapu
Menyapa dengan belai-belai intipan senyummu
Menyejuk dengan poles-poles cat biru emasnya beku
Arus,
Bentuk desirmu memutih
Dengan kepak-kepak lembut
Semakin mendekat,
Benar semakin arus
Sejengkal demi sejengkalmu menundukkanku
Menjajarkan dengan segaran manyar madu
Menerik perlahan, bersama:
Hujanan mentari yag rindang di tengah-tengah pandangku, dengar terbangun
Memahkotai atap-atap nara panjang beleberan bunga-bunga rayu
Sejenak,
Jengkal demi jengkalmu menunduk
Merayu arus
Menjajar arus
Arus dalam arus bius.
#illa-08/12.12
Arus,
Bentuk desirmu memutih
Dengan kepak-kepak lembut
Semakin mendekat,
Benar semakin arus
Sejengkal demi sejengkalmu menundukkanku
Menjajarkan dengan segaran manyar madu
Menerik perlahan, bersama:
Hujanan mentari yag rindang di tengah-tengah pandangku, dengar terbangun
Memahkotai atap-atap nara panjang beleberan bunga-bunga rayu
Sejenak,
Jengkal demi jengkalmu menunduk
Merayu arus
Menjajar arus
Arus dalam arus bius.
#illa-08/12.12
Senin, 03 Desember 2012
Batang
by ; Laila Situs
tubuhmu, meliuk di tiupan
Menarikmu memetik hembusan
Menengok cahaya yang mengintip-intip pandangan
Sambil, menata gabus-gabus air sisa perasan
Sambil, menata ranting yang berjatuh gerayapan
Tetapi,tetap tegak menatapi batangan
Meski, luka itu ditutup halaman
Batang, bertuanmu di tanahan nisan
Kami penikmat hasil tuan
Meranum diam mendengar
Menengadahkan dua jemari tetuan
Menali parit-parit jejalan.
Batang, ambu ruammu dipelipis buraman
Mengangakan patri bertusuk-tusuk bisikan
2/1212
Sambil, menata ranting yang berjatuh gerayapan
Tetapi,tetap tegak menatapi batangan
Meski, luka itu ditutup halaman
Batang, bertuanmu di tanahan nisan
Kami penikmat hasil tuan
Meranum diam mendengar
Menengadahkan dua jemari tetuan
Menali parit-parit jejalan.
Batang, ambu ruammu dipelipis buraman
Mengangakan patri bertusuk-tusuk bisikan
2/1212
Jatuhnya Lilin di Bongkah Intipan Senja Mati
by ; Laila Situs
Padu sore di singgah jalanan bertari
pencandu asap-asap berkerisik sunyi
mulai mengarak air di belaian udara hening
Bergemulai dengan intipan fajar yang manis menguning
Beradu, dengan tonggak ranting-ranting lemahmu
Lambai-lambai sore itu pun ikut ,,, menantimu dipinggiran kota mati
Dulu, bak serupa pagar angin yang berayun lembut
Berdesir dengan gerak seruput guguran daun
Dulu, bak waktu yang mengikat-ikat di lambai pusarnya reranting
Dulu,bak injak pena mu yang kau sembunyi
bersama di pinggiran kursi jingga yang tertuli...
kini, berganti hujan lilin...
hujan lilin yang sesembuh di ujung rebahnya lukisan bisik
berhenti,
dan membuka titik rintik di untai-untai tangkai biara suci
bersemi dan mekar di suguhan hijau betari,,,
menanti seruput anginMu memanggil.
(berbongkahkan intipan senja mati
1/12/12
Beradu, dengan tonggak ranting-ranting lemahmu
Lambai-lambai sore itu pun ikut ,,, menantimu dipinggiran kota mati
Dulu, bak serupa pagar angin yang berayun lembut
Berdesir dengan gerak seruput guguran daun
Dulu, bak waktu yang mengikat-ikat di lambai pusarnya reranting
Dulu,bak injak pena mu yang kau sembunyi
bersama di pinggiran kursi jingga yang tertuli...
kini, berganti hujan lilin...
hujan lilin yang sesembuh di ujung rebahnya lukisan bisik
berhenti,
dan membuka titik rintik di untai-untai tangkai biara suci
bersemi dan mekar di suguhan hijau betari,,,
menanti seruput anginMu memanggil.
(berbongkahkan intipan senja mati
1/12/12
Minggu, 02 Desember 2012
Rongga Masif
by ; Laila Situs
Beradu jejal dalam luang terik
Kelambu layang,beterbangan dalam remasan rintik
Pacik,tanpa alir berisik
bersemi:
Lari!
Larilah!
Anak perahu serik,
Lanjut tuamu dalam kerongkongan pasir,
Berbatu bui,
Berteras ranting,kemilau berjaring taring...
Larilah tetua serik,
Pandirmu tumpul dalam puing,
Beradu muluk,dalam pelemparan puingan sisik...
Sudah,tulahmu lanjut
Tua,dan akan pasti berhulu suri...
(keringnya simpati/empati,10/09/12
Lari!
Larilah!
Anak perahu serik,
Lanjut tuamu dalam kerongkongan pasir,
Berbatu bui,
Berteras ranting,kemilau berjaring taring...
Larilah tetua serik,
Pandirmu tumpul dalam puing,
Beradu muluk,dalam pelemparan puingan sisik...
Sudah,tulahmu lanjut
Tua,dan akan pasti berhulu suri...
(keringnya simpati/empati,10/09/12
Senin, 08 Oktober 2012
Sulaman Wafa
by ; Laila Situs
Meruah benang
Bersayapkan tiga kapas
Dengan kaku,duduk menatapi hembusannya
Antara kaku,putih,dan pagaran senyumnya
Benang singgah yang santun berkaku paru pun
Tertawa abu.
Bertata kepakan wafa
Sulam,menyapai liuk-liuk peminta
Jahit merenda,luar dalam singgah bersentuhkan paras benang lusuhnya.
27/09/12
Benang singgah yang santun berkaku paru pun
Tertawa abu.
Bertata kepakan wafa
Sulam,menyapai liuk-liuk peminta
Jahit merenda,luar dalam singgah bersentuhkan paras benang lusuhnya.
27/09/12
Selendang
by ; Laila Situs
(“berlorek:
Riuh ronta dalam rahim sang bumi gusar
Sedang mempertanyakan intipan layang,berkabarkan gurat gelombang
Selendang
Jangan kau tangiskan separuh cahaya malang
Ah,diam...
Akan ku tanyakan,lelahmu yang labang
Pada serat dewangga malam:
Kainmu yang menggumpal benang
Kainmu yang menghujani gincu-gincu padang
Kainmu yang berkelok patahan topan
Dewangga,
Dimana selendang berkalung jeritan?
Dewanggga,menatap dalam:
Meniup seruling kabutan pasang.
26/9/12
Jangan kau tangiskan separuh cahaya malang
Ah,diam...
Akan ku tanyakan,lelahmu yang labang
Pada serat dewangga malam:
Kainmu yang menggumpal benang
Kainmu yang menghujani gincu-gincu padang
Kainmu yang berkelok patahan topan
Dewangga,
Dimana selendang berkalung jeritan?
Dewanggga,menatap dalam:
Meniup seruling kabutan pasang.
26/9/12
Rabu, 26 September 2012
Huruf Gagu
by ; Laila Situs
Lambung tumbuk bertalu-talu
Berkepul
Berasapkan perasan jantung
Lagu sayu yang menjamuku pun
Niru menggebu
Kembali,berpelatuk madu nan kering berbibirkan kulitan ratu
Yang menarik dengan kabar bayang
Bersenja dengan singgah dalam kursi-kursi sekam
Merindu,tunduk,terpaku,meleleh keringan rayu
Berucap
Sepotong huruf
Tumpah berteteskan keringan rayu
22.9.12
Lagu sayu yang menjamuku pun
Niru menggebu
Kembali,berpelatuk madu nan kering berbibirkan kulitan ratu
Yang menarik dengan kabar bayang
Bersenja dengan singgah dalam kursi-kursi sekam
Merindu,tunduk,terpaku,meleleh
Berucap
Sepotong huruf
Tumpah berteteskan keringan rayu
22.9.12
Selasa, 18 September 2012
Air Gumpal
by ; Laila Situs
Serak,suaraku bergumam
Dera,beretaskan kaci berselang
Gemuruh,berkecam
Hawa yang lamban pun,mengalir berporikan jarum-jarum pintal
Kering,tajam
Amukan angin yang simpang pun beradu gelombang
Menjamu sayat,yang haus bertopikan jerami pekat
Simpuh,laluku berepublik durjana malang,
Air gumpal,
Meledak bertatakan lilin padam
Berhamburan
Mengaruk muka,berkejang
Berbingkis
Berseruling
Sirat,berdaunkan piranti kerang.
16/09/12
Hawa yang lamban pun,mengalir berporikan jarum-jarum pintal
Kering,tajam
Amukan angin yang simpang pun beradu gelombang
Menjamu sayat,yang haus bertopikan jerami pekat
Simpuh,laluku berepublik durjana malang,
Air gumpal,
Meledak bertatakan lilin padam
Berhamburan
Mengaruk muka,berkejang
Berbingkis
Berseruling
Sirat,berdaunkan piranti kerang.
16/09/12
Jumat, 14 September 2012
Ilalang
by ; Laila Situs
Berderas,sekeping harap
Yang membumbung dalam segi-segi tapak
Tampak:
Kapas,teras.
Menjaga bersapunya bunga-bunga ilalang
Hingga,Tanpa kepak sapa
Hinggap,dengan sekelumit tanda
Meneduh bersama
Berbingkai kertas penganut sampan kerak.
13/09/12
Kapas,teras.
Menjaga bersapunya bunga-bunga ilalang
Hingga,Tanpa kepak sapa
Hinggap,dengan sekelumit tanda
Meneduh bersama
Berbingkai kertas penganut sampan kerak.
13/09/12
Symphoni
by ; Laila Situs
Meraut dalam kaburan malang
Menawan
Berdaun dera bui nisan
Sebuah pera selempang,
Putih,berdasarkan tiang pandang
Meraung dengan sua diam
Tarikan titik-titik pun mencerutu saja
Tenang,
Diam,berbalutkan kasa pintal
Tuding pun berasap simponi dalang
Menghadap malam,di peraduan nazar
kerontang,dan simpang.
11/9/12
Sebuah pera selempang,
Putih,berdasarkan tiang pandang
Meraung dengan sua diam
Tarikan titik-titik pun mencerutu saja
Tenang,
Diam,berbalutkan kasa pintal
Tuding pun berasap simponi dalang
Menghadap malam,di peraduan nazar
kerontang,dan simpang.
11/9/12
Gera Kertas
by ; Laila Situs
Menatap dengan siulan cahaya
Melari dalam intipan fajar
Yang melukisi paras-paras kertas yang lahir dalam-dalam
Sejenak,dan seterusnya...
Tumpukannya pun lari bersama derasan
Berselambu malaikat
Serap lekat berputarkan larung gelombang
Ingatnnya pun rapuh,
Ketika pudar melukisi putihan serabut,
Menjamu dalam renta yang berkaram
Lantun singgah berbati sendu muram.
11/9/12
Tumpukannya pun lari bersama derasan
Berselambu malaikat
Serap lekat berputarkan larung gelombang
Ingatnnya pun rapuh,
Ketika pudar melukisi putihan serabut,
Menjamu dalam renta yang berkaram
Lantun singgah berbati sendu muram.
11/9/12
Rongga Masif
by ; Laila Situs
Beradu jejal dalam luang terik
Kelambu layang,beterbangan dalam remasan rintik
Pacik,tanpa alir berisik
bersemi:
Lari!
Larilah!
Anak perahu serik,
Lanjut tuamu dalam kerongkongan pasir,
Berbatu bui,
Berteras ranting,kemilau berjaring taring...
Larilah tetua serik,
Pandirmu tumpul dalam puing,
Beradu muluk,dalam pelemparan puingan sisik...
Sudah,tulahmu lanjut
Tua,dan akan pasti berhulu suri...
(keringnya simpati/empati,10/09/12
Lari!
Larilah!
Anak perahu serik,
Lanjut tuamu dalam kerongkongan pasir,
Berbatu bui,
Berteras ranting,kemilau berjaring taring...
Larilah tetua serik,
Pandirmu tumpul dalam puing,
Beradu muluk,dalam pelemparan puingan sisik...
Sudah,tulahmu lanjut
Tua,dan akan pasti berhulu suri...
(keringnya simpati/empati,10/09/12
Kamis, 13 September 2012
Oase Pasi
by ; Laila Situs
Mengalir,
Terkapai-kapai
Berderaskan pandangan arca sunyi
Sinis,bersapukan mistik
Terang yang melari pun terpatahkan tabiran pasi
Menjadi tak bertahta,liar tanpa jalan bertali
Peraduan oasepun kering,
Mengalah dalam tuduhan sesaji
Para pandega pun sesak bertepi
Melihat layang tumbang dalam ketenangan batik berkaki.
09/09/12
Terang yang melari pun terpatahkan tabiran pasi
Menjadi tak bertahta,liar tanpa jalan bertali
Peraduan oasepun kering,
Mengalah dalam tuduhan sesaji
Para pandega pun sesak bertepi
Melihat layang tumbang dalam ketenangan batik berkaki.
09/09/12
Sabtu, 25 Agustus 2012
Surat Katarak
by ; Laila Situs
Sebuah jalan dengan teriakan tegap
Penuh jeram menjalar dengan darah
Sukma di tata dengan angka-angka rupiah
Lalu buang dibuai sampah
Dengan tiba berpadankan lumpuran tanah
Tanpa peluru senjata
Tonggak tegak
Lupa dengan batokan tunasnya
Tumbuh tanpa aparatus ideologinya
Tiba mencair dalam bejana
Di selaput peluruhan beta
Hujan mata bahkan selalu bersua
Antara jas me-rah dan lu-rah
Saling berebut di tahta
Sekarang
Surat tiba:
Punakawan harus segera ditata
Di barisan adi hegemoni ketua
Benar surat katarak!
Berjubah senjata tanpa titik koma
Pelatuk siapkan bara
Surat harus merdeka.
Nasib yang diselimuti kabut perah)”
23 Agustus 2012
Dengan tiba berpadankan lumpuran tanah
Tanpa peluru senjata
Tonggak tegak
Lupa dengan batokan tunasnya
Tumbuh tanpa aparatus ideologinya
Tiba mencair dalam bejana
Di selaput peluruhan beta
Hujan mata bahkan selalu bersua
Antara jas me-rah dan lu-rah
Saling berebut di tahta
Sekarang
Surat tiba:
Punakawan harus segera ditata
Di barisan adi hegemoni ketua
Benar surat katarak!
Berjubah senjata tanpa titik koma
Pelatuk siapkan bara
Surat harus merdeka.
Nasib yang diselimuti kabut perah)”
23 Agustus 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
Lalu Getah
by ; Laila Situs
Menyisir di batang basah
Menyiur tak ubahnya pandangan parah
Tertuju dalam aliran rotasi searah
Dengan corak yang bertapa
Lalu bilah-bilahpun mulai berhambur dengan tawa bisunya
Lalu dengan anginan kata-kata gagu,Siapi ia bertabuh dalam kain rumahnya,
Lalu menyusupi pori-pori dagu yang panjang di palungan tandunya
Sejengkal, rebah
Terkapar getah
Lalu membatu
Dalam raungan pintu cemeti kuburnya
Berjarak, di rumput-rumput bernama.
11.7.12
Lalu bilah-bilahpun mulai berhambur dengan tawa bisunya
Lalu dengan anginan kata-kata gagu,Siapi ia bertabuh dalam kain rumahnya,
Lalu menyusupi pori-pori dagu yang panjang di palungan tandunya
Sejengkal, rebah
Terkapar getah
Lalu membatu
Dalam raungan pintu cemeti kuburnya
Berjarak, di rumput-rumput bernama.
11.7.12
Bumi Subal
by ; Laila Situs
Di sesaki hegemoni tanpa aparatus
Bisu buyu
Di kerokan batok berjejak parut
Kerikil keringat menyapu
Dengan senyum apati
Di kerongkongan paku
Dengan wasiat:
Tangan dan perut satu
Bersempoyong laku
Di padang hijau bumi subalku
Lalu
Tak pahit di nisan-nisan penjajahan anakmu
Meraja dengan tonggak kuku
Mencengkeram di kulit hitam dan putihku
Tak adakah raungan dari sebal-sebalnya waktu?
Tak terdengarkah petiran itu?
Semu kuah di gurun agung
Berselir suak di manisan merdu
Selasa, 21 Agustus 2012
Dengan senyum apati
Di kerongkongan paku
Dengan wasiat:
Tangan dan perut satu
Bersempoyong laku
Di padang hijau bumi subalku
Lalu
Tak pahit di nisan-nisan penjajahan anakmu
Meraja dengan tonggak kuku
Mencengkeram di kulit hitam dan putihku
Tak adakah raungan dari sebal-sebalnya waktu?
Tak terdengarkah petiran itu?
Semu kuah di gurun agung
Berselir suak di manisan merdu
Selasa, 21 Agustus 2012
Langganan:
Postingan (Atom)