Tampilkan postingan dengan label Duta-D. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta-D. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 September 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Jumat, 09 Agustus 2013
Kencan Gerimis di Malam Fitri
by ; Duta-D
aku, kau mengencani malam
dengan gerimis
yang turun diamdiam
sesayup takbir
sabung menyabung
dari bibir ke bibir
lantas meluap pada Ramadhan akhir
nikmati saja kemenangan ini
meski dahaga
setidaknya, gerimis telah menuntun kita
pada hari esok yang fitrah
: lusa, entah?
Palembang, 1 Syawal 1434 H
aku, kau mengencani malam
dengan gerimis
yang turun diamdiam
sesayup takbir
sabung menyabung
dari bibir ke bibir
lantas meluap pada Ramadhan akhir
nikmati saja kemenangan ini
meski dahaga
setidaknya, gerimis telah menuntun kita
pada hari esok yang fitrah
: lusa, entah?
Palembang, 1 Syawal 1434 H
Minggu, 23 Desember 2012
Emak
by ; Duta - D
ajari aku
untuk tangguh
berdiri dan berlari
dengan doadoamu
sepanjang hari,
(sebab mimpimu semasaku dibuaian belumlah tergenapi)
Palembang, 22 Desember 2012
Senin, 03 Desember 2012
Selepas Hujan
by ; Duta-D
Bulan terbit temaram
di balik rimbun pohon kemang
berjinjit pada tanahtanah basah
aku berdansa di bawah langit yang gelisah
Palembang, 30 November 2012
Palembang, 30 November 2012
Jumat, 30 November 2012
Gamang
by; Duta-D
"tapi sayang...
sayang-sayang, seribu kali sayang..
kemanakah risalah kualamatkan.."
di tabir jingga, aku menuntun resah
menuju malam dalam bingkai lampu temaram
aku gamang
sonata sunyi terlampau pedih
untukku bisa mencuri sepotong mimpi
"tapi sayang...
sayang-sayang, seribu kali sayang
kemanakah risalah kualamatkan.."
di tabir jingga, aku membunuh gelisah
menuju malam dalam dekap embun basah
aku gamang dengan setangkup doa
selepas kidung rindu melarung tanpa arah
O, dengarkan fatwa pujangga
risalah hati ini makin tersesat entah kemana..
(catatan; bait pertama dan bait ke-4 adalah penggalan lirik lagu Fatwa Pujangga)
Palembang, 26 November 2012
di tabir jingga, aku menuntun resah
menuju malam dalam bingkai lampu temaram
aku gamang
sonata sunyi terlampau pedih
untukku bisa mencuri sepotong mimpi
"tapi sayang...
sayang-sayang, seribu kali sayang
kemanakah risalah kualamatkan.."
di tabir jingga, aku membunuh gelisah
menuju malam dalam dekap embun basah
aku gamang dengan setangkup doa
selepas kidung rindu melarung tanpa arah
O, dengarkan fatwa pujangga
risalah hati ini makin tersesat entah kemana..
(catatan; bait pertama dan bait ke-4 adalah penggalan lirik lagu Fatwa Pujangga)
Palembang, 26 November 2012
Senin, 08 Oktober 2012
Untuk Sahabatku Sang Penunggang Angin ; Almarhum Agusta bin Tambas
by ; Duta - D
Gus, jauh engkau terbang
menunggangi angin
memetakan jarak yang terbentang
dan kusimpan di mata kenang
jejakmu masih ada tertinggal di belakang
dengan debu dan asap knalpot yang luruh
Gus, jejalanan ini merindumu
Meski ia juga yang akhirnya merenggutmu
sebelum subuh
Palembang, 2012
dan kusimpan di mata kenang
jejakmu masih ada tertinggal di belakang
dengan debu dan asap knalpot yang luruh
Gus, jejalanan ini merindumu
Meski ia juga yang akhirnya merenggutmu
sebelum subuh
Palembang, 2012
Selasa, 18 September 2012
Ketika Hujan Menjadi Mimpimu
by ; Duta-D
sore ini, percakapanmu pada gersang
tak kunjung sampai pada titik temu
sementara ladang dan sawahsawah kita
meregang dipeluk kematian
benihbenih layu sebelum tumbuh
punai gelisah di puncak rantingranting rapuh
berpetakpetak tanah membisu
; “aku tak bisa menjanjikan hujan yang kau rindu”
katamu sembari merebahkan tidur panjang
pada pondok kayu di tengah pematang
lalu malam melayarkan mimpimimpimu
tentang hujan
tentang gemericik air di selokan
tentang tanahtanah basah
dan bocahbocah menari di tengah rinainya
Merasi, Lubuklinggau September 2012
benihbenih layu sebelum tumbuh
punai gelisah di puncak rantingranting rapuh
berpetakpetak tanah membisu
; “aku tak bisa menjanjikan hujan yang kau rindu”
katamu sembari merebahkan tidur panjang
pada pondok kayu di tengah pematang
lalu malam melayarkan mimpimimpimu
tentang hujan
tentang gemericik air di selokan
tentang tanahtanah basah
dan bocahbocah menari di tengah rinainya
Merasi, Lubuklinggau September 2012
PEREMPUAN-PEREMPUAN PEMECAH BATU
bu ; Duta-D
renangi sungai Kelingi
lalu peluklah riaknya
hingga senja serupa kilau permata
di wajahnya yang renta
sebab di sana, berbongkah-bongkah batu
telah menjelmakan diri bagai mutiara
untukmu Perempuan-perempuan
bertulang baja..
Kelingi, Lubuk Linggau September 2012
sebab di sana, berbongkah-bongkah batu
telah menjelmakan diri bagai mutiara
untukmu Perempuan-perempuan
bertulang baja..
Kelingi, Lubuk Linggau September 2012
Selasa, 28 Agustus 2012
Hujan
by ; Duta-D
seperti juga aku
rerumput
dedaun
pun
rindu padamu
; hujan
Palembang, 28 Agustus 2012
rindu padamu
; hujan
Palembang, 28 Agustus 2012
Catatan kecil dinihari
by ; Duta-D
Aku ingin menikahi kata lalu melahirkan cerita dari rahimnya. Kelak akan kudongengkan untukmu setelah ia dewasa dan mengenali mana yang benar dan mana yang salah. Tak perlu menunggu lama, sebab aku akan menuliskannya pada selembar sejarah dengan jejak-jejak kaki di sepanjang alur hidup yang akan engkau lalui dengan namaku untuk kau kenali sebelum pagi beranjak pergi.
Palembang, 26 Agustus 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
Lengang
by ; Duta-D
aku tengah mencumbu
sepi di teras rumah
kubah-kubah bisu
sajadah merah
merindu jamaah
selepas ramadhan
lengang pun tiba
kembali seperti biasa
Palembang, 2 Syawal 1433 H
merindu jamaah
selepas ramadhan
lengang pun tiba
kembali seperti biasa
Palembang, 2 Syawal 1433 H
Sabtu, 11 Agustus 2012
Ngerawi
by ; Duta-D
kita sama diam
menyimak bisik air
desah riak dan gelombang
sementara bulan
masih mencumbu malam
dengan sinarnya yang paling temaram
kecipak dayung
merayu musi
lampu di atas perahu
pucat memeluk waktu
sejenak kita sama tergagu
byarr!
Baung sungai menggelepar
Hening buyar
Tak sia-sia penantian
Dan rokok terbakar berbatang-batang
; ada ikan untuk kita bawa pulang
Palembang, 4 Agustus 2012
masih mencumbu malam
dengan sinarnya yang paling temaram
kecipak dayung
merayu musi
lampu di atas perahu
pucat memeluk waktu
sejenak kita sama tergagu
byarr!
Baung sungai menggelepar
Hening buyar
Tak sia-sia penantian
Dan rokok terbakar berbatang-batang
; ada ikan untuk kita bawa pulang
Palembang, 4 Agustus 2012
Senin, 06 Agustus 2012
Lelaplah
by ; Duta - D
bulan, lelaplah
sebab titah Tuhan
ini waktunya kan tiba
untuk Matahari berjaga
lelaplah dengan gaun embun
lalu bangunlah saat senja
sebab malam akan gelisah
tanpa purnama disisinya..
Palembang, 4 Agustus 2012
lelaplah dengan gaun embun
lalu bangunlah saat senja
sebab malam akan gelisah
tanpa purnama disisinya..
Palembang, 4 Agustus 2012
Kamis, 02 Agustus 2012
Sajak Di Pijar Purnama
by ; Duta - D
Sayang, bila engkau terjaga
dari lelap malam ini
cobalah tengok ke balik jendela
ada sepotong sajakku menggantung
di kedamaian pijar purnama
sebab selepas senja
aku telah menggoreskannya
dengan tinta rindu dan cinta yang sederhana..
Palembang, 24 Februari 2012
di kedamaian pijar purnama
sebab selepas senja
aku telah menggoreskannya
dengan tinta rindu dan cinta yang sederhana..
Palembang, 24 Februari 2012
Sabtu, 28 Juli 2012
Mahkota Rindu tujuh Purnama
by ; Duta - D
San, Malam ini
tunggu aku di tempat biasa
tempat di mana kita kerap menatap bulan
lalu memanjatnya dengan do’a-do’a
seperti purnama kemarin
kita menyambangi hening lalu berbincang
tanpa suara, tak bertatap mata
hanya jemari yang menari lincah
mengurai kata yang lahir di benak kita
San. Malam ini
Tunggu aku di tempat biasa
Ada titah hati yang belum tersampaikan
Tentang rindu yang harus kita alamatkan
Kemana jua kita tetapkan pertemuan
Di ujung malam yang paling hitam
Pun di ambang pagi esok nanti
Temui aku dengan senyum yang paling manis
Ada mahkota dengan taburan cinta
Kuanyam dari pijar rindu tujuh purnama
Untuk kita mengarungi bahtera
berdua
with ; Angel Bintang Parahyangan
Palembang, 27 July 2012
Jumat, 27 Juli 2012
Rindu
RINDU
by ; Duta - D
Di matamu,
surga Parahyangan melebur
Dalam debur, hujan pepasir
Dan terik lalu mengeringkan telaga
dari pipimu yang ranum serupa seroja
purnama berganti rupa
Menunggu di balik jendela
Timbul tenggelam di langit kota Abha
Menawar rindu, peluk cium belahan jiwa
Di ujung mata, mimpi menjadi teramat indah
Di matamu,
Terhimpun doa yang terkungkung
Dalam tubuh batu gunung-gemunung
Lalu kelana angin melarung
Membawa sebongkah rindu
; pulang menuju kampung
Palembang, 24 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
