Tampilkan postingan dengan label Aby Santika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aby Santika. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 September 2013
Jumat, 09 Agustus 2013
Lelaki Yang Bermata Api
by ; Aby Santika
Seperti yang telah kau kenal diriku
Seperti yang telah kau kenal diriku
lelaki yang berangkat dari penyangkalan agung
lelaki yang lupa kapan dan dimana waktu pulang
setiap langkah telah terlaknati sebagai kenabianku
; aku melilitkan pandangan seperti ular bermata api
Biar segala karma seperti kesucian yang lantak
sebab selalu ada luka untuk menguji
seribu mata akan menyaksikan jasadku ditepikan lahat
ketika segala kenyerian masih berkutat pada rimba kekosongan
Namun, aku telah bersekutu dengan tubuhku
kehendak terlalu lemah seperti biji pelir yang terkulai
memuncratkan birahi ke puncak api
hingga duri tak akan bersimbah darah
sebab diriku adalah api! pada setiap bola mataku adalah bara melebihi neraka!
" Aku akan tetap hidup dari setiap penyangkalan; jiancuk !!"
Aby Santika
Blitar,
07 Agustus 2013.
Senin, 31 Desember 2012
TITIMANGSA; YA MARHABAN : menjelang hari kelahiran kekasih
by ; Aby Santika
Kemudian kepastian seperti amnesia dierami perhitungan
cermin diri, sebagai kelahiran yang paling sempurna diikatkan tubuh
umpama Mariam menitahkan almasih membuhulkan persetubuhan alam
Separuh tahun meleburkan dunia, dari awal ke awal
nyanyian sunyi tak terpahami, pun tak ada keajaiban karena doa mengakrabi
usia tak kenal angka, dan segala yang telah terpenggal tak bisa diretas kecuali takdir
kepada sang kala ribuan lilin peringatan berpinak dari rahimnya
Titimangsa kelahiran tercipta dari kelesik kelembutan kasih
benih begitu sumir menyimpan putik janin suci di awal zaman
kembang api dan nyanyian-nyanyian kudus menempelkan pahala dan awal dosa di lembar dakwaan
: kau berguling dengan beribu-ribu malaikat meniupkan riuh doa menuju hadirmu
Sementara kugelombangkan hijrah di lain waktu
berpelesir tanpa kata-kata api: seperti pembakaran Sinta atau Ibrahim
barangkali, hanya peringatan paling keparat terlontar
sebab pula bukan pinangku ditasbihkan dengan air mata kesedihan
hanya melangkah, saat ingatan meliarkan pertaruhan
- untuk doa dan pujimu di titimangsa: ya marhaban!
Bandung,
31 Desember 2012.
Sekerat Sabda
by ; Aby Santika
Silahkan pulang! O kekasih yang jatuh di awal zaman
kesangsianku mendurhakai sabda yang membuat dada tersalib
segala perburuan hanyalah perjamuan di alir jejakku ketika air mata menjadi pakir
kita bersua; aku pun memeluk mimpi yang kau titipkan
Zaman yang pernah membuat juga kita terjerembab, lalu terasing
meski aku harus merunut bebayang lanun di antara orgasme harapan yang menujumu
apa yang bisa aku timba dari sekerat sabdamu ketika kau berhenti mengaji hidup sebagai ilham?
- meski di sebuah pintu aku bersujud menyembah kikir yang bersalam kepadamu
"letakkan tangismu," katamu.
"sungai-sungai bebulir air mata memberi api terhadap arus yang kau kabarkan..."
: kita adalah Khidir penguasa lautan, menghunus umpatan dengan tombak!
O sang kekasih, aku membaca berjuta sabda yang tergurat di daun pelawa
silahkan kau pulang menuju hal ihwal sebuah kiblat yang batunya kita pahat
kita kembali mengembara rindu sebagai pelancongan pada satu takdir
dan menjadikan ritmis waktu sebagai tempat berkhidmat agar kita saling mengingat
Karena di seberang, kisah yang mengunci membuatku bagai tugu
tetali tubuhku berkumpar seperti ular yang paling berbisa
sungguhkah aku harus berdiam menyalibkan: alif dengan abjad?
kau tersenyum dalam kesedihan di sekerat sabda yang melayang
dan aku meski sang Khidir penguasa lautan
: aku terbakar!
Bandung,
27 Desember 2012.
Senin, 08 Oktober 2012
Cungkup Airmata
by ; Aby Santika
Tanah basah dengan ruwatan antah-berantah disepuh air mata
lelembar daun telah patah di hamparan seprei yang telah kekal
tak ada yang bersulang, pun nasib ditelanjangi beramai-ramai
langit begitu gerimis, hanya tetes yang terdengar menuruni cungkup tersalibkan
aku tak mungkin berhenti di alur pelacuran serupa meratapi karib yang tenggelam
Dan tentang belasungkawa, kecuali firdaus dipenuhi pengungsian bugil "ketelanjangan"
sejumput ingatan disandingkan meski hanya nir air mata diasingkan
masih kurasakan keremangan keruh membungkus ruh keluasan sunyi
cungkup: isyarat berangkatmu di simpang dan aku masih bergegas
:ya gusti pemilik segala jasad yang rubuh, bukanlah kematian yang kembali dibangkitkan air mata
sebab telah kubangun rumah-rumah seperti ketika Isa dilangitkan
segalanya dihitung waktu sebelum menjemput
saat gerimis menggenapkan titik-titik sunyi, air mata memencilkan bias di tepi cungkup
Bandung,
30 September 2012.
aku tak mungkin berhenti di alur pelacuran serupa meratapi karib yang tenggelam
Dan tentang belasungkawa, kecuali firdaus dipenuhi pengungsian bugil "ketelanjangan"
sejumput ingatan disandingkan meski hanya nir air mata diasingkan
masih kurasakan keremangan keruh membungkus ruh keluasan sunyi
cungkup: isyarat berangkatmu di simpang dan aku masih bergegas
:ya gusti pemilik segala jasad yang rubuh, bukanlah kematian yang kembali dibangkitkan air mata
sebab telah kubangun rumah-rumah seperti ketika Isa dilangitkan
segalanya dihitung waktu sebelum menjemput
saat gerimis menggenapkan titik-titik sunyi, air mata memencilkan bias di tepi cungkup
Bandung,
30 September 2012.
Rabu, 26 September 2012
TARIAN KABUT
by ; Aby Santika
Ihwal perjamuan hanyalah sekat kepercayaan embun pada timba usia
aku berharap matamu mendekap sekujur kabut yang menggurat menemukan riak
seperti kelepak camar tak henti saling mengerling mengatupkan pagi yang terjaga
Lalu pada cawan yang kesekian, kita memanjat berahi yang mengutip satu awalan
- beterbangan ritmis sendawa angin ketika gemulai tarian sorongkan mimpi
dingin kembali tumpah saling berganti, dari dedaun yang mulai mengering
meski sebuah kisah berkelit tak kunjung kekal
Tarian dipinggulmu terus bergerak melampaui pukau kabut di gantungan musim
di tumpuk penantian serupa menghidupi masa lalu dalam pelukan embun
:tandus
seiring takdir berdegup riuh menentang gamelan tak bertuah
Ikutlah lebur melepas tawa yang terpahat sebelum maghrib
agar kian mengerti tentang kesakitan dan khianat matahari mengenang pagi
serta setiap dahagamu melingkarkan karma semua indera yang mulai lelah
kemudian kita terus melangkah dan bernyanyi bersama
Berabad, aku masih mengenalmu menyebutku kekasih
karena kabut yang terjelma, tidak menjadi raksa
erotis yang kita ikrarkan menyembul menzinahi semesta
lalu gairah mengguyur memberi kehidupan pada setiap pagi
: tarian kabut, ingatkah?
Bandung,
21 September 2012.
Lalu pada cawan yang kesekian, kita memanjat berahi yang mengutip satu awalan
- beterbangan ritmis sendawa angin ketika gemulai tarian sorongkan mimpi
dingin kembali tumpah saling berganti, dari dedaun yang mulai mengering
meski sebuah kisah berkelit tak kunjung kekal
Tarian dipinggulmu terus bergerak melampaui pukau kabut di gantungan musim
di tumpuk penantian serupa menghidupi masa lalu dalam pelukan embun
:tandus
seiring takdir berdegup riuh menentang gamelan tak bertuah
Ikutlah lebur melepas tawa yang terpahat sebelum maghrib
agar kian mengerti tentang kesakitan dan khianat matahari mengenang pagi
serta setiap dahagamu melingkarkan karma semua indera yang mulai lelah
kemudian kita terus melangkah dan bernyanyi bersama
Berabad, aku masih mengenalmu menyebutku kekasih
karena kabut yang terjelma, tidak menjadi raksa
erotis yang kita ikrarkan menyembul menzinahi semesta
lalu gairah mengguyur memberi kehidupan pada setiap pagi
: tarian kabut, ingatkah?
Bandung,
21 September 2012.
Selasa, 28 Agustus 2012
CORETAN DI TEMBOK BELAKANG
by ; Aby Santika
1/
Ada yang menggodai tempat aku bersender menunggu kau berpulang,
dindingdinding panjang di sekujur pundak tertulis pesan paling jalang dari buah dadamu
mengendap seluruh subuh, sedang para lelakon hidup menghanyutkan kecupan sampai matahari tenggelam
ah, seperti sungai nuh berdarah-darah di atas kanvas buta,
-mengabadikan duka!
2/
Bergegas coretan perlahan memelan jantungjantung di balik ruang kosong dan reot
kaki bertemu kaki, lalu kisah porak poranda dengan pecahan mata batu begitu saja
" anginangin menuliskan ode yang melambai tanpa pesan"
3/
:hei, hunuskan aku sebilah jenawi berayun kepala! "teriakku di arah belakang"
kemudian tertegun pohonpohon yang kauagungkan seperti rebah di jalan Ilahi
: akupun kembali beralih mencari batas hitam-putih yang berterbangan
4/
Belukar juga mulai terbakar meski ada api yang membahasakan gigil ke ruas napas
kita berhayat dengan penuh gairah, sebab rindu begitu sengak menjadi rumus yang berputar 180 derajat
di sini, coretan berganti-ganti dengan angka, berabad-abad dan jelma doa dengan sujud mendengus
mata bersua menghitung keropok takdir nun jauh dan terbata-bata.
5/
Jika kau akan sampai sebelum keesaan menjebol tembok berlubang; menghambur sajak dirambati mimpi sengau
- kita tak ada janji tuk berlama-lama, di pangkuan selangkang
dan tak ada jejak coretan pada tanah yang masih terpeta dengan gemuruh
: hati, alangkah kita tak berjarak dari tubuh kita
Bandung,
28 Agustus 2012.
ah, seperti sungai nuh berdarah-darah di atas kanvas buta,
-mengabadikan duka!
2/
Bergegas coretan perlahan memelan jantungjantung di balik ruang kosong dan reot
kaki bertemu kaki, lalu kisah porak poranda dengan pecahan mata batu begitu saja
" anginangin menuliskan ode yang melambai tanpa pesan"
3/
:hei, hunuskan aku sebilah jenawi berayun kepala! "teriakku di arah belakang"
kemudian tertegun pohonpohon yang kauagungkan seperti rebah di jalan Ilahi
: akupun kembali beralih mencari batas hitam-putih yang berterbangan
4/
Belukar juga mulai terbakar meski ada api yang membahasakan gigil ke ruas napas
kita berhayat dengan penuh gairah, sebab rindu begitu sengak menjadi rumus yang berputar 180 derajat
di sini, coretan berganti-ganti dengan angka, berabad-abad dan jelma doa dengan sujud mendengus
mata bersua menghitung keropok takdir nun jauh dan terbata-bata.
5/
Jika kau akan sampai sebelum keesaan menjebol tembok berlubang; menghambur sajak dirambati mimpi sengau
- kita tak ada janji tuk berlama-lama, di pangkuan selangkang
dan tak ada jejak coretan pada tanah yang masih terpeta dengan gemuruh
: hati, alangkah kita tak berjarak dari tubuh kita
Bandung,
28 Agustus 2012.
Senin, 06 Agustus 2012
Ritus Sebatang Lisung
by ; Aby Santika
Aku mencatat sebatang resah yang tumbang dari pelupuk
dan bayangbayang percakapan yang berjela muasalmu
dari seribu batu berbelah dengan sekali tepuk
ketika ritus gemeretak menyentuh langitlangit bersemak belukar
hingga mimpi kelahiran ditarik kembali, ibarat melisankan kutukan
dari bibir bawahmu
Senyampang debu dari selangkangan memukul kayu tanpa ukiran
kecuali sepetak dada kusebut lambang dari jazirah
karena kenikmatan menusuk lubang lisung pertanda waktu ditabuhnya riwayat kehidupan
-menawarkan dahaga dalam kecipaknya mata air
yang muncrat menghardikkan serabutku
" Tuhan masih mengintip, di antara urat kemaluan "
O, aku tercerabut dari kuntum yang rekah katakata dusta
semisal adam ditundukkan khuldi: mencedrai dari dosa muasal manusia
membelah tanah dengan tongkat kemaluan
Duk !
Duk !
Duk !
bebunyi lisung bermata segitiga !
Sungguhkah telah tergelar pertempuran yang agung?
di kedalaman dunia sendiri, burung hudhud menggambarkan petapeta yang basah
dengan butir bulir putih yang asin, melata di kedua lembah dan tebing
hingga napasku tandus di gigir doadoa malam dari denting daun
Masihkah kau, mengapung mencari batas persujudan musim
atau berbagi segala rahasia yang tersampir dibibirku
O, saat gairah berjamaat dikiblatkan di lorong tubuhmu
aku perlahan sampai pada kabut yang dikacaukan suara kayu yang beralunan
: lisung !
Bandung,
06 Agustus 2012
hingga mimpi kelahiran ditarik kembali, ibarat melisankan kutukan
dari bibir bawahmu
Senyampang debu dari selangkangan memukul kayu tanpa ukiran
kecuali sepetak dada kusebut lambang dari jazirah
karena kenikmatan menusuk lubang lisung pertanda waktu ditabuhnya riwayat kehidupan
-menawarkan dahaga dalam kecipaknya mata air
yang muncrat menghardikkan serabutku
" Tuhan masih mengintip, di antara urat kemaluan "
O, aku tercerabut dari kuntum yang rekah katakata dusta
semisal adam ditundukkan khuldi: mencedrai dari dosa muasal manusia
membelah tanah dengan tongkat kemaluan
Duk !
Duk !
Duk !
bebunyi lisung bermata segitiga !
Sungguhkah telah tergelar pertempuran yang agung?
di kedalaman dunia sendiri, burung hudhud menggambarkan petapeta yang basah
dengan butir bulir putih yang asin, melata di kedua lembah dan tebing
hingga napasku tandus di gigir doadoa malam dari denting daun
Masihkah kau, mengapung mencari batas persujudan musim
atau berbagi segala rahasia yang tersampir dibibirku
O, saat gairah berjamaat dikiblatkan di lorong tubuhmu
aku perlahan sampai pada kabut yang dikacaukan suara kayu yang beralunan
: lisung !
Bandung,
06 Agustus 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
Hijrah Menuju Waktu
by ; Aby Santika
Berawal dari sini,
kesetiaan bermalam beribu windu di garis alismu
menitipkan hidup dalam jarak dan kata
mungkin angin bisa menjauh di luar sangka
namun pinangku diamdiam menumpulkan jarak
meski kau gemetar terperangkap perburuan
Ku cintai kau, meski lenguhku lebih nisbi dari gerak waktu
hingga hijrah menuju sengau rembang usia
kejelitaanmu mengapung amsal buluh perindu bersulur di tubuhku
- dalam hitungan kala, kuhijrahkan waktu bersamamu
dan kurapatkan telunjukku menggambar rautmu
Kurasai gelapku menuruni seluruh cerlang aortamu
mi'rahku tidak seperti kepondang tanpa dedaunan
berkicauan dalam orkestrasi suara awal masehi usia kita
dipenuhi janji, melesungkan heningku
; di jalan ini
kemudian berdiam dipenuhi nasibmu
Ah, bukan kesementaraan saat tubuh rubuh ke muara
bila kita berkisah penziarah yang berjalan serupa melafal alif ba’ ta’
rautmu pernah di utus ke sepotong pencerahan takdir
sampai mengingatkan kerinduan itu menuju satu, atau ketiadaan
lalu hijrahlah pilihan yang melampaui masa
menuju waktumu, masihkah?
Aby Santika
Bandung,
01 Agustus 2012
namun pinangku diamdiam menumpulkan jarak
meski kau gemetar terperangkap perburuan
Ku cintai kau, meski lenguhku lebih nisbi dari gerak waktu
hingga hijrah menuju sengau rembang usia
kejelitaanmu mengapung amsal buluh perindu bersulur di tubuhku
- dalam hitungan kala, kuhijrahkan waktu bersamamu
dan kurapatkan telunjukku menggambar rautmu
Kurasai gelapku menuruni seluruh cerlang aortamu
mi'rahku tidak seperti kepondang tanpa dedaunan
berkicauan dalam orkestrasi suara awal masehi usia kita
dipenuhi janji, melesungkan heningku
; di jalan ini
kemudian berdiam dipenuhi nasibmu
Ah, bukan kesementaraan saat tubuh rubuh ke muara
bila kita berkisah penziarah yang berjalan serupa melafal alif ba’ ta’
rautmu pernah di utus ke sepotong pencerahan takdir
sampai mengingatkan kerinduan itu menuju satu, atau ketiadaan
lalu hijrahlah pilihan yang melampaui masa
menuju waktumu, masihkah?
Aby Santika
Bandung,
01 Agustus 2012
Langganan:
Postingan (Atom)