by ; Anjani Ratna Palupi
setan yang bersarang
di mata dan otak ku
bergegas pulang
menikam siang panas
:cepat!
gertaknya
sejenak
warna serupa kelam
melampis serupa tabir
di depan
mendekap
aku tersenyum
kecut
:tidak
kataku pelan
Tgrg 111212
by ; Anjani Ratna Palupi
jarakmu yang engkau buat
sudah semakin menjauh
ufuk depaku tak sampai
ribuan kilo menjadi petaka
yang terasa sampah di mataku
dimana telah aku pahat lautan menjadi kerinduan
yang terdalam
kini, aku bakar menjadi abu-
abu yang hilang
oleh angin purba
kau janjikan rasa manis
kita kupas dengan embun
yang menetes di kala shubuh
dengan kembang-kembang
para, tahukah kamu ?
pada parasmu yang memudar, pada bayangmu yang
menghilang
rasa manis itu mengorek
lukaku
begitu sakit
bunga-bunga firdaus
puisi-puisi rembulan
angur dan kidung malam
dulu, menjadi ritual rindu yang
paling abadi
sekarang, aku serapahkan semua, padamu laki-laki
khabarmu terpenjera di ruang
batin penungguanku
kembali
menyulam sepi
kembali
air mata menjadi oase
kembali
langit dan matahari terasa asing mangawasiku
kembali
bayanganku sendiri tak aku
kenali
dan malam ini,
Tuhan
menjelma menjadi perjaka
yang tampan
Tgrg 71212
by ; Anjani Ratna Palupi
Sungguh semakin bertapa pada hati yang sunyi
Ketika fajar yang bertahan bersama embun
Menjumpaiku di sudut sepiku
Akh !
teringat , kau goda aku , walau jejakmu kuragu menapaki
di kala hujan.
Tak bisakah kau bukakan payung untukku
Biar basah, tak mengapa
Memanjakan dekapanmu, pada waktu yang menguras kegamangan
aku kau lepas pada titik yang terasa asing aku jamah
ini kah jalanku?
dan kau menghilang ditapal batas tanyaku yang buta
tanpa warna dan bentuk
Nov' 301112